Konpers Dasawarsa Hari Batik Nasional di Jakarta, Selasa (1/10/2019). (Antara/Aubrey Fanani)
PELITAINDONESIA.CO – Drama musikal "Canting, Malam dan Mas Print" yang disutradarai oleh Aditya Yusma akan mengangkat permasalahan yang dialami pengrajin batik.
"Salah satu yang tengah dihadapi adalah semakin sedikitnya perajin canting dan regenarasi penrajin batik kian melambat," kata dia yang juga CEO Peninda Wastra Persada di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan canting dan malam atau lilin adalah dua alat yang menjadi bagian penting dalam pembuatan batik, tanpa kedua alat itu maka tak akan ada batik tulis, namun saat ini batik yang dibuat dari canting harus berhadapan dengan batik yang dibuat oleh print.
Apalagi kini batik nasional juga harus bersaing dengan batik-batik buatan cina yang beredar di pasaran dengan harga yang lebih murah.
Melalui drama musikal ini Aditya ingin menggambarkan bagaimana kehidupan batik di hulu akan hilang apabila pemerintah dan komunitas tidak memperhatikan masalah-masalah tersebut.
Dwiki Darmawan akan menjadi penata musik drana musikal tersebut, dengan memasukkan medley dari enam daerah yang akan mewakili motif bariknya.
"Melalui panggung ini kami ingin menyampaikan kepada masyarakat kalau batik telah menjadi tamu kehormatan di dunia, industrinya semakin maju tetapi perajinnya tidak mengalami regenerasi yang baik," kata dia.
Drama musikal tersebut akan ditampilkan dalam perayaan Dasawarsa Hari Batik Nasional di halaman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Rabu (2/10), pukul 19.00 WIB.
Demikian berita ini dikutip dari ANTARANEWS.COM untuk dapat kami sampaikan kepada pembaca sekalian.
